Selasa, 14 Juli 2015

Keris Bethok Sombro



Keris dengan jenis sombro ini sering dihubung-hubungkan dengan wacana mistis dan sangat diminati tuahnya yang sering di sebut dapat menetralkan aura pusaka lain yang bersifat ganas atau tidak sejiwa dengan pemiliknya. 

Hal tersebut semisal: 
keris Sombro dipercaya sebagai pasangan dari keris Umyang Jimbe, sehingga para kolektor dan pecinta pusaka dari dalam dan luar negeri yang memiliki pusaka simpanan tak segan-segan berburu keris dengan dapur yang satu ini, meskipun harus rela sampai berburu ke berbagai daerah. Selain itu keris buatan Ni Mbok Sombro sering ditonjolkan sebagai keris yang mewakili kesuburan, kemakmuran dan harapan akan kedamaian. Sumber: Griyakulo



Dhapur : Bethok 
Empu : Sombro
Pamor : Nggajih
Pesi puntir wutuh

Tangguh : Pajajaran

Sertifikat : TMII
Status: Termahar

Keris Jalak Ngore



Secara umum merupakan simbolisasi pencapaian kebahagiaan dan melepaskan dari segala permasalahan hidup ( terkait dengan nafkah). 

Burung Jalak menurut pandangan orang jawa : 
Simbol pelipur duka, memberikan rasa senang dihati, menghilangkan rasa kejengkelan hati, sedangkan gambaran sosoknya, dimana kepakan sayapnya melambai lambai sambil mengepakkan sayap bersuara dengan keras ( Ngore) merupakan usaha dalam mencari pangan( nafkah) untuk memenuhi kebutuhan. Burung yang telah mendapatkan pangan kemudian pulang kembali ke sarangnya ( Rumah dan Keluarganya)  
Jalak merupakan burung peliharaan dalam masyarkat jawa yang mempunyai kepekaan tinggi terhadap lingkungannya. Dalam mencari makan , burung jalak mempunyai sifat saling menguntungkan ( tidak merugikan orang lain). DI sisi lain, Jalak merupakan burung yang sangat setia terhadap pasangannya. 

Kata Ngore dapat berasal dari kata “Mudhar” , yang berarti mengurai. Ngore mempunyai makna aktif bergerak melepaskan dari kesulitan / keruwetan dari setiap permasalahan secara teliti dan bertahap. Hal ini Juga berorientasi pada ketekunan .



  Ricikan pada Dapur Jalak Ngore mempunyai makna sebagai berikut :  
Gandhip Polos merupakan symbol kekuatan, ketekunan dan rajin bekerja .  
Tikel Alis, merupakan simbol sifat manusia ada sisi baik dan buruk, keduanya harus dikendalikan. Dalam mencari nafkah, hendaknya selalu menimbang baik buruknya dan akibatnya terhadap martabat  
Greneng, merupakan simbol “rasa” atau hati. Dalam menjalankan hidup segala sesuatu dilandasi dengan hati yang bersih dan baik prasangka  
Sraweyan , merupakan simbol keluwesan, Dalam bekerja hendaknya menjaga keselarasan terhadap sesame, masyarakat, lingkungan dan dapat beradaptasi dengan kebiasaan setempat. SIkap menghargai orang lain.  
Pijetan / Blumbangan, merupakan simbol keihklasan hati dan kesabaran, TIdak ada yang disebut takdir sebelum diawali dengan ikhtiar / usaha  

Jalak Ngore  : 
Jalani hidup dengan hati yang senang dan lapang seperti gambaran burung jalak yang sedang Ngore. Utamakan perbuatan yang baik dan selalu menjaga ketakwaan kepada Tuhan serta hubungan kepada keluarga, masyarakat serta lingkungannya. Dalam bekerja untuk mencari nafkah hendaknya berlaku jujur dan tidak merugikan orang lain. Setiap permasalahan / usaha harus dievaluasi secara teliti dan tekun. Setiap permasalahan harus dihadapi dengan mengedepankan perasaan hati dan pikiran, ketimbang nafsu dan emosi. 
Untuk mencapai cita cita dan tujuan, diperlukan kesungguhan, ketekunan, kewaspadaan dan kesabaran. Tidak ada orang sejahtera / kaya mendadak, semua harus dirintas dari bawah. Sumber:  Bpk Handoko Ismarsodo

Dhapur : Jalak Ngore
Pamor : Wos Wutah
Tangguh : Hb Sepuh

Sertifikat : TMII
Status: Dimaharkan

Minggu, 25 Januari 2015

Keris Panimbal

Keris Panimbal

Setelah menunggu beberapa bulan, akhirnya dapat juga keris panimbal ini.
Keris ini pamor ceprat ceprit dan tangguh majapahit.

Bentuknya enak dilihat, karena itu sandangannya dimodalin pakai kayu gaharu.
Kelihatan gagah dan mantap







Status: Termahar

Keris Carubuk

Keris Kyai Carubuk adalah mahakarya ketiga dari Mpu Supa Madrangi selain Keris Kyai Sangkelat dan Keris Kyai Nagasasra. Keris ini juga merupakan peninggalan Mahapahit.

Dalam satu legenda dikisahkan, Kanjeng Sunan Kalijaga meminta tolong kepada Mpu Supa Mandragi untuk dibuatkan sebuah keris coten-sembelih (untuk menyembelih kambing). Sunan Kaljaga memberikan besi yang ukurannya sebesar biji asam jawa sebagai bahan pembuatan keris kepada Mpu Supa Mandrangi.
Mengetahui besarnya calon besi tersebut, Empu Supa sedikit terkejut. Namun setelah Mpu Supa menerima besi tersebut dari Kanjeng Sunan Kalijaga, Ia berkata “besi ini bobotnya berat sekali, tak seimbang dengan besar wujudnya dan tidak yakin apakah cukup untuk dibuat keris”. Lalu Sunan Kalijaga berkata “besi itu tidak hanya sebesar biji asam jawa tetapi besarnya seperti gunung”. Karena ampuhnya perkataan Kanjeng Sunan Kalijaga, pada waktu itu juga besi yang sebesar biji asam jawa tersebut menjelma menjadi sebesar gunung. Hati empu Supa menjadi gugup, karena mengetahui bahwa Kanjeng Sunan Kalijaga memang benar-benar wali yang dikasihi oleh Sang Pencipta Kehidupan, yang bebas mencipta apapun. Lantaran itu, empu Supa berlutut dan takut.

Ringkas cerita, besipun kemudian dikerjakan oleh Mpu Supa Mandrangi. Tidak lama kemudian, jadilah sebilah keris, kemudian Mpu Supa Mandrangi menyerahkan keris tersebut kepada Kanjeng Sunan Kalijaga. Begitu melihat bentuk kerisnya, Kanjeng Sunan Kalijaga menjadi kaget karena hasil kejadian keris itu berbeda jauh sekali dengan yang dimaksudkan. Semula ia bermaksud meminta dibuatkan keris untuk menyembelih kambing, ternyata yang dihasilkan adalah keris Jawa (baca Nusantara) asli Majapahit, luk tujuhbelas. Begitu mengetahui keindahan keris, perasaan Kanjeng Sunan Kalijaga tersentuh, oleh karena itu mengamatinya sempai puas tidak bosan-bosannya. Kemudian ia berkata sambil tertawa dan memuji keindahan keris itu.

Kemudian Kanjeng Sunan Kaljaga memberikan besi sebesar biji kemiri kepada Mpu Supa Mandrangi dan meminta Mpu Supa Mandrangi untuk membuatkannya sebilah keris lagi. Lalu Empu Supa mengerjakannya, dan setelah dikerjakan, jadilah sebilah keris mirip pedang suduk (seperti golok atau belati). Kemudian Mpu Supa Mandrangi menyerahkan keris tersebut kepada Kanjeng Sunan Kaljaga. Begitu mengetahui wujud keris yang dihasilkan, Kanjeng Sunan Kalijaga sangat senang hatinya dan menamai keris tersebut dengan nama “Keris Kyai Carubuk”.

Kemudian para mpu pun mulai membuat keris sejenis, berikut ini adalah keris carubuk yang mengikuti pakem keris carubuk, estimasi masa majapahit.





Warangka dan handle dari Gaharu wangi
Pamor ceprat, ceprit
Besi di tempa matang
Kondisi masih relatif utuh dan pantas menjadi koleksi






Pasikutan berwibawa,...

Sertifikat : TMII
Status : Termahar