Kamis, 12 September 2024

Doa Nabi Muhammad ﷺ tentang cahaya




Ibnu Abbas (semoga Allah meridhoinya) meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ biasanya mengucapkan doa ini ketika pergi ke masjid pada sepertiga malam terakhir: “Ya Allah, jadikanlah cahaya di hatiku, dan cahaya di lidahku, dan cahaya di telingaku, dan cahaya di penglihatanku, dan cahaya di atasku, dan cahaya di bawahku, dan cahaya di kananku, dan cahaya di kiriku, dan cahaya di depanku dan cahaya di belakangku. Jadikanlah cahaya di jiwaku. Besarkanlah cahaya untukku, dan perbanyaklah cahaya untukku. Jadikanlah cahaya untukku, dan buatlah cahaya untukku. Ya Allah, berikanlah cahaya untukku, dan berikanlah cahaya di urat-uratku, dan cahaya di tubuhku, dan cahaya di darahku, dan cahaya di rambutku, dan cahaya di kulitku. Ya Allah, jadikanlah cahaya untukku di kuburanku… dan cahaya di tulang-tulangku. Tambahkanlah cahaya untukku, tambahkanlah cahaya untukku, tambahkanlah cahaya untukku. Berikanlah cahaya di atas cahaya.”
[Sahih Bukhari]


Doa Nabi Muhammad ﷺ tentang cahaya mengandung makna yang mendalam dan simbolis. Dalam doa tersebut, Rasulullah ﷺ memohon kepada Allah untuk diberikan cahaya di berbagai aspek kehidupannya. Berikut adalah teks doa tersebut:

"Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku, cahaya dalam lisanku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dalam penglihatanku, cahaya dari arah atasku, cahaya dari arah bawahku, cahaya dari arah kananku, cahaya dari arah kiriku, cahaya dari arah depanku, dan cahaya dari arah belakangku. Jadikanlah untukku cahaya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Makna "Cahaya" dalam Doa Ini:

  1. Cahaya sebagai Petunjuk (Hidayah): Cahaya dalam konteks ini bisa dimaknai sebagai petunjuk dari Allah. Nabi Muhammad ﷺ memohon agar setiap aspek hidupnya diberi petunjuk yang benar sehingga selalu berada di jalan yang lurus dan terhindar dari kesesatan.

  2. Cahaya sebagai Ilmu dan Pemahaman: Cahaya juga sering diartikan sebagai ilmu. Rasulullah ﷺ meminta agar hatinya, lisannya, dan inderanya disinari oleh cahaya ilmu, sehingga pemahaman dan wawasan yang diberikan oleh Allah dapat menuntunnya untuk berbuat baik dan benar dalam segala hal.

  3. Cahaya Keimanan: Cahaya ini juga melambangkan iman yang menuntun seseorang pada kebenaran dan ketaatan. Dalam hati, lisan, dan tindakan seseorang, cahaya iman dapat mencegah keburukan dan menguatkan untuk selalu berbuat kebaikan.

  4. Cahaya Perlindungan dan Keberkahan: Dengan meminta cahaya dari berbagai arah—atas, bawah, kanan, kiri, depan, belakang—Rasulullah ﷺ juga berdoa agar selalu berada dalam perlindungan Allah, terhindar dari bahaya, godaan, dan segala hal yang bisa menjauhkannya dari kebaikan.

  5. Cahaya sebagai Tanda pada Hari Kiamat: Dalam hadis lain disebutkan bahwa orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan diberikan cahaya sebagai tanda pada hari kiamat. Cahaya ini membantu mereka untuk meniti jalan menuju surga dan keselamatan di akhirat. Dengan doa ini, Nabi ﷺ memohon agar diberikan cahaya sebagai tanda rahmat dan keberkahan Allah di dunia dan akhirat.

Secara keseluruhan, "cahaya" dalam doa ini melambangkan pencerahan ruhani, bimbingan Allah, keberkahan, serta perlindungan dari segala bentuk kegelapan, baik secara fisik maupun spiritual.

Hati nurani adalah bagian dari diri manusia yang berfungsi sebagai pemandu moral dan etika, memberikan dorongan untuk melakukan kebaikan dan menjauhkan diri dari kejahatan. Dalam Islam, hati nurani sering dianggap sebagai bagian dari "fitrah" atau sifat dasar manusia yang suci dan cenderung pada kebaikan. Memanfaatkan hati nurani dengan baik dapat membantu seseorang menjalani kehidupan yang penuh integritas, kejujuran, dan kebaikan. Berikut adalah beberapa cara untuk memanfaatkan hati nurani secara efektif:

1. Mendengarkan Hati Nurani

  • Refleksi Diri: Seringlah merenung dan mendengarkan suara hati nurani. Hati nurani memberikan rasa tenang ketika kita melakukan kebaikan dan memberikan rasa gelisah saat kita mendekati atau melakukan hal yang salah.
  • Jangan Abaikan Suara Hati: Ketika hati nurani memberikan peringatan atau keraguan terhadap suatu tindakan yang mungkin salah, penting untuk tidak mengabaikannya. Mengabaikan hati nurani dapat membuat seseorang terbiasa dengan perilaku yang menyimpang.

2. Meningkatkan Kesadaran Spiritual

  • Dekat dengan Allah: Dalam Islam, memperkuat hubungan dengan Allah melalui ibadah, seperti shalat, membaca Al-Qur'an, dan berzikir, dapat membersihkan hati nurani dari kegelapan dan memperkuat dorongan untuk berbuat kebaikan.
  • Berdoa untuk Hidayah: Berdoa agar Allah selalu menuntun kita pada kebaikan dan menjauhkan dari kejahatan. Dengan bimbingan Allah, hati nurani kita menjadi lebih tajam dalam membedakan yang benar dan salah.

3. Melatih Kebaikan dan Empati

  • Praktikkan Empati: Rasakan apa yang dirasakan orang lain dan berempati terhadap penderitaan dan kebutuhan mereka. Hati nurani sering kali terdorong untuk membantu sesama dan berbuat baik ketika kita merasakan penderitaan orang lain.
  • Biasakan Berbuat Baik: Membiasakan diri dengan perbuatan baik memperkuat hati nurani dan membuatnya lebih responsif dalam memberikan panduan moral dalam kehidupan sehari-hari.

4. Menghindari Pengaruh Negatif

  • Jauhi Hal-hal yang Menumpulkan Hati Nurani: Perilaku buruk seperti berbohong, berbuat zalim, atau hidup dalam kebohongan dapat menumpulkan hati nurani. Jika seseorang sering mengabaikan hati nurani, lambat laun ia bisa kehilangan kepekaannya terhadap kebaikan dan kejahatan.
  • Lingkungan yang Baik: Berada dalam lingkungan yang positif dan bergaul dengan orang-orang yang memiliki integritas dapat membantu menjaga kepekaan hati nurani.

5. Bersikap Jujur pada Diri Sendiri

  • Akui Kesalahan: Ketika hati nurani menunjukkan bahwa kita telah melakukan kesalahan, penting untuk segera mengakuinya, memohon ampun kepada Allah, dan memperbaiki diri. Sikap jujur kepada diri sendiri adalah kunci untuk menjaga kebersihan hati nurani.
  • Evaluasi Diri Secara Teratur: Lakukan introspeksi diri secara berkala. Tanyakan kepada diri sendiri apakah tindakan yang telah dilakukan sesuai dengan nilai-nilai moral dan etika yang benar.

6. Menjaga Kebersihan Hati

  • Taubat dan Istighfar: Memohon ampun kepada Allah atas kesalahan yang dilakukan membantu membersihkan hati nurani dari beban dosa, sehingga ia bisa berfungsi lebih baik.
  • Menjaga Hati dari Hasad dan Kebencian: Hati yang dipenuhi dengan kebencian, iri, dan niat buruk akan sulit mendengarkan suara hati nurani. Bersihkan hati dengan niat baik dan kebersihan jiwa.

7. Menyeimbangkan Akal dan Hati Nurani

  • Kombinasikan dengan Akal: Meskipun hati nurani penting, tetaplah menggunakan akal untuk mempertimbangkan konsekuensi dari setiap tindakan. Akal dan hati nurani bekerja sama untuk membuat keputusan yang tepat.
  • Pikirkan Sebelum Bertindak: Sebelum bertindak, pikirkan dampak dari tindakan tersebut terhadap diri sendiri dan orang lain. Hati nurani biasanya mendorong seseorang untuk mempertimbangkan aspek moral dari setiap keputusan.

Kesimpulan

Memanfaatkan hati nurani adalah tentang mendengarkan, merawat, dan memelihara kesucian jiwa kita. Dengan selalu menjaga kebersihan hati melalui hubungan yang dekat dengan Allah, berbuat baik kepada sesama, dan introspeksi diri, hati nurani dapat menjadi kompas moral yang memandu kita menjalani kehidupan yang bermakna dan penuh kebaikan.





Rabu, 01 Juni 2016

Keris Sombro





Aura nya adem cocok sebagai keris tindih pusaka naga atau pun omyang jimbe.

Jika anda penggemar barang pusaka, memiliki keris tindih merupakan keharusan untuk me-redam aura-aura panas dari pusakan yang ada. Keris sombro ini cocok untuk melakukan hal tersebut sehingga rumah terasa lebih adem dan tenang.

Silakan bagi yg cocok.
Pastikan anda cocok terlebih dahulu baru melakukan transaksi.

Status: dimaharkan

Rabu, 06 April 2016

Keris Pusaka Pasopati

Keris ini merupakan dhapur favorit saya, sudah lama saya  mencari keris dhapur ini yang layak di koleksi hingga seorang teman bersedia membantu mencari untuk saya.

Dhapur     : Pasopati
Pamor      : Dwi warna, Pamor Nur dan Ngulit semangka
Tangguh    : Surakarta
Warangka : Iras

Pendoknya saya ganti baru karena yang lama sudah kurang bagus, lainnya masih orisinal.

Keris ini dalam keadaan wutuh dan setiap  menerawang keris ini, terasa sekali besarnya power yang ada. Wibawa besi dan pomornya membuat hati senang melihat keris ini.


 Sekar kacang pogog dan original, dengan pulasan pamor yang jelas, begitu pula lambe gajah double serta sraweyan yg wutuh.




Sertifikat musium pusaka merupakan bukti ke original an keris pusaka ini.


Warangka dan sandangan bagus, keris secara keseluruhan terlihat gagah dan berwibawa.


Sor-soran nya mempesona dengan besi lumer yang mantap. Setiap memandang sor-soran ini, terasa sekali getaran kuat dari keris ini.




Keris pusaka pasopati yang mempesona dan cocok untuk para pemimpin agar selalu diingatkan berperilaku lurus, amanah dan terpuji.

Status: dimaharkan

Selasa, 14 Juli 2015

Keris Bethok Sombro



Keris dengan jenis sombro ini sering dihubung-hubungkan dengan wacana mistis dan sangat diminati tuahnya yang sering di sebut dapat menetralkan aura pusaka lain yang bersifat ganas atau tidak sejiwa dengan pemiliknya. 

Hal tersebut semisal: 
keris Sombro dipercaya sebagai pasangan dari keris Umyang Jimbe, sehingga para kolektor dan pecinta pusaka dari dalam dan luar negeri yang memiliki pusaka simpanan tak segan-segan berburu keris dengan dapur yang satu ini, meskipun harus rela sampai berburu ke berbagai daerah. Selain itu keris buatan Ni Mbok Sombro sering ditonjolkan sebagai keris yang mewakili kesuburan, kemakmuran dan harapan akan kedamaian. Sumber: Griyakulo



Dhapur : Bethok 
Empu : Sombro
Pamor : Nggajih
Pesi puntir wutuh

Tangguh : Pajajaran

Sertifikat : TMII
Status: Termahar

Keris Jalak Ngore



Secara umum merupakan simbolisasi pencapaian kebahagiaan dan melepaskan dari segala permasalahan hidup ( terkait dengan nafkah). 

Burung Jalak menurut pandangan orang jawa : 
Simbol pelipur duka, memberikan rasa senang dihati, menghilangkan rasa kejengkelan hati, sedangkan gambaran sosoknya, dimana kepakan sayapnya melambai lambai sambil mengepakkan sayap bersuara dengan keras ( Ngore) merupakan usaha dalam mencari pangan( nafkah) untuk memenuhi kebutuhan. Burung yang telah mendapatkan pangan kemudian pulang kembali ke sarangnya ( Rumah dan Keluarganya)  
Jalak merupakan burung peliharaan dalam masyarkat jawa yang mempunyai kepekaan tinggi terhadap lingkungannya. Dalam mencari makan , burung jalak mempunyai sifat saling menguntungkan ( tidak merugikan orang lain). DI sisi lain, Jalak merupakan burung yang sangat setia terhadap pasangannya. 

Kata Ngore dapat berasal dari kata “Mudhar” , yang berarti mengurai. Ngore mempunyai makna aktif bergerak melepaskan dari kesulitan / keruwetan dari setiap permasalahan secara teliti dan bertahap. Hal ini Juga berorientasi pada ketekunan .



  Ricikan pada Dapur Jalak Ngore mempunyai makna sebagai berikut :  
Gandhip Polos merupakan symbol kekuatan, ketekunan dan rajin bekerja .  
Tikel Alis, merupakan simbol sifat manusia ada sisi baik dan buruk, keduanya harus dikendalikan. Dalam mencari nafkah, hendaknya selalu menimbang baik buruknya dan akibatnya terhadap martabat  
Greneng, merupakan simbol “rasa” atau hati. Dalam menjalankan hidup segala sesuatu dilandasi dengan hati yang bersih dan baik prasangka  
Sraweyan , merupakan simbol keluwesan, Dalam bekerja hendaknya menjaga keselarasan terhadap sesame, masyarakat, lingkungan dan dapat beradaptasi dengan kebiasaan setempat. SIkap menghargai orang lain.  
Pijetan / Blumbangan, merupakan simbol keihklasan hati dan kesabaran, TIdak ada yang disebut takdir sebelum diawali dengan ikhtiar / usaha  

Jalak Ngore  : 
Jalani hidup dengan hati yang senang dan lapang seperti gambaran burung jalak yang sedang Ngore. Utamakan perbuatan yang baik dan selalu menjaga ketakwaan kepada Tuhan serta hubungan kepada keluarga, masyarakat serta lingkungannya. Dalam bekerja untuk mencari nafkah hendaknya berlaku jujur dan tidak merugikan orang lain. Setiap permasalahan / usaha harus dievaluasi secara teliti dan tekun. Setiap permasalahan harus dihadapi dengan mengedepankan perasaan hati dan pikiran, ketimbang nafsu dan emosi. 
Untuk mencapai cita cita dan tujuan, diperlukan kesungguhan, ketekunan, kewaspadaan dan kesabaran. Tidak ada orang sejahtera / kaya mendadak, semua harus dirintas dari bawah. Sumber:  Bpk Handoko Ismarsodo

Dhapur : Jalak Ngore
Pamor : Wos Wutah
Tangguh : Hb Sepuh

Sertifikat : TMII
Status: Dimaharkan

Minggu, 25 Januari 2015

Keris Panimbal

Keris Panimbal

Setelah menunggu beberapa bulan, akhirnya dapat juga keris panimbal ini.
Keris ini pamor ceprat ceprit dan tangguh majapahit.

Bentuknya enak dilihat, karena itu sandangannya dimodalin pakai kayu gaharu.
Kelihatan gagah dan mantap







Status: Termahar

Keris Carubuk

Keris Kyai Carubuk adalah mahakarya ketiga dari Mpu Supa Madrangi selain Keris Kyai Sangkelat dan Keris Kyai Nagasasra. Keris ini juga merupakan peninggalan Mahapahit.

Dalam satu legenda dikisahkan, Kanjeng Sunan Kalijaga meminta tolong kepada Mpu Supa Mandragi untuk dibuatkan sebuah keris coten-sembelih (untuk menyembelih kambing). Sunan Kaljaga memberikan besi yang ukurannya sebesar biji asam jawa sebagai bahan pembuatan keris kepada Mpu Supa Mandrangi.
Mengetahui besarnya calon besi tersebut, Empu Supa sedikit terkejut. Namun setelah Mpu Supa menerima besi tersebut dari Kanjeng Sunan Kalijaga, Ia berkata “besi ini bobotnya berat sekali, tak seimbang dengan besar wujudnya dan tidak yakin apakah cukup untuk dibuat keris”. Lalu Sunan Kalijaga berkata “besi itu tidak hanya sebesar biji asam jawa tetapi besarnya seperti gunung”. Karena ampuhnya perkataan Kanjeng Sunan Kalijaga, pada waktu itu juga besi yang sebesar biji asam jawa tersebut menjelma menjadi sebesar gunung. Hati empu Supa menjadi gugup, karena mengetahui bahwa Kanjeng Sunan Kalijaga memang benar-benar wali yang dikasihi oleh Sang Pencipta Kehidupan, yang bebas mencipta apapun. Lantaran itu, empu Supa berlutut dan takut.

Ringkas cerita, besipun kemudian dikerjakan oleh Mpu Supa Mandrangi. Tidak lama kemudian, jadilah sebilah keris, kemudian Mpu Supa Mandrangi menyerahkan keris tersebut kepada Kanjeng Sunan Kalijaga. Begitu melihat bentuk kerisnya, Kanjeng Sunan Kalijaga menjadi kaget karena hasil kejadian keris itu berbeda jauh sekali dengan yang dimaksudkan. Semula ia bermaksud meminta dibuatkan keris untuk menyembelih kambing, ternyata yang dihasilkan adalah keris Jawa (baca Nusantara) asli Majapahit, luk tujuhbelas. Begitu mengetahui keindahan keris, perasaan Kanjeng Sunan Kalijaga tersentuh, oleh karena itu mengamatinya sempai puas tidak bosan-bosannya. Kemudian ia berkata sambil tertawa dan memuji keindahan keris itu.

Kemudian Kanjeng Sunan Kaljaga memberikan besi sebesar biji kemiri kepada Mpu Supa Mandrangi dan meminta Mpu Supa Mandrangi untuk membuatkannya sebilah keris lagi. Lalu Empu Supa mengerjakannya, dan setelah dikerjakan, jadilah sebilah keris mirip pedang suduk (seperti golok atau belati). Kemudian Mpu Supa Mandrangi menyerahkan keris tersebut kepada Kanjeng Sunan Kaljaga. Begitu mengetahui wujud keris yang dihasilkan, Kanjeng Sunan Kalijaga sangat senang hatinya dan menamai keris tersebut dengan nama “Keris Kyai Carubuk”.

Kemudian para mpu pun mulai membuat keris sejenis, berikut ini adalah keris carubuk yang mengikuti pakem keris carubuk, estimasi masa majapahit.





Warangka dan handle dari Gaharu wangi
Pamor ceprat, ceprit
Besi di tempa matang
Kondisi masih relatif utuh dan pantas menjadi koleksi






Pasikutan berwibawa,...

Sertifikat : TMII
Status : Termahar